Iseng ikut bedah buku

Note dulu, ini ada review bukunya dikit. Tapi beneran gue akan jarang review buku, apalagi buku berbobot macam buku dibawah ini…oohhh ampuunn dijee, otak saya tak sangguppp *garuk-garuk aspal*

Judul : Kenangan Tak Terucap : Saya, Ayah, dan Tragedi 1965

Penulis : Nani Nurrachman Sutojo

Sebelom masuk ke bukunya, gue mau cerita dulu sekilas sebelum acara dimulai. Jadi bedah buku ini lokasinya di Hall Atma Jaya Jakarta, dalam rangka sewindu Magister Profesi Psikologi. Untuk memeriahkan acara anniversary itu, acara bedah buku yang dipilih, soalnya kebetulan sang penulis buku ini adalah salah satu dosen kami di Atma Jaya.

Nah, gue ama 2 temen gue (temen yang juga selingkuhannya mas Thesis) sama-sama ikut ke bedah buku ini karena kepo tertarik sama bukunya. Kita bertiga dateng lebih awal, tanda tangan, ambil snack terus duduk (soalnya ga boleh makan di dalam hall). Ga lama kemudian, satu demi satu mulai datang…

Ter-Intimidasi adalah…

Ketika 3 mahasiswa master cupu yang gak lulus-lulus thesis ini duduk diantara pakar-pakar psikolog, para sejarahwan, dan sastrawan. Literally kita terjebak duduk di tengah-tengah dan dikelilingi orang-orang hebat dan mereka asik ngobrol kanan-kiri kaya baru reuni. Oh, tentu saja kami bertiga hanya bisa membisu dan berdoa. Doa kami bertiga sama, semoga ketularan. Amen! 😀

Ter-Intimidasi (lagi) adalah….

Ketika ketiga masiswa cupu ini saling memandang penuh arti satu sama lain karena nggak ngerti para panelis nya ngomong apa hahahahaa 😀 Sungguh loh, bahasa mereka itu tingkat dewa dengan istilah yang bikin gue harus buka KBBI dulu (note : Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Synopsis :

Buku ini menceritakan mengenai sosok seorang Nani Nurrachman Sutojo, putri kedua Jendral Sutojo Siswomihardjo dan Sri Rochjati. Seperti yang kita ketahui bahwa Jend. Sutojo Siswomihardjo adalah salah seorang pahlawan yang gugur dalam masa pemberontakan G 30S/PKI. Buku ini bukan buku sejarah, buku ini lebih menceritakan mengenai pergolakan hidup seorang Nani, dimulai kehilangan seorang ibunda di usia muda, seorang remaja yang pertentangannya dengan belenggu budaya yang kuat, dan yang paling dasyat adalah perjuangan melepaskan trauma dari kehilangan sosok ayah yang berlangsung puluhan tahun lamanya. Buku ini sarat emosi, membuka lembaran baru untuk kita teguh berjuang, bahwa manusia belajar dan berkembang. Buku ini mengajari kita untuk memahami, bahwa sepanjang dan segelap apapun sebuah terowongan yang kita lewati, kita harus meyakini bahwa selalu ada cahaya di ujung terowongan tersebut…

Review :

Tadi yah pas buku itu dibedah, saking sarat emosinya, salah seorang panelis sampe menangis saat mengupas gejolak emosi dari sisi psikologi klinis. Dia seorang psikolog ternama, karena ia membayangkan keadaan tersebut, ia menjadi tidak bisa menjaga jarak emosional. Percaya deh, psikolog ini dulu pas kuliah, sampe bikin gue ama temen-temen gue terbengong-bengong saking dia keren abis. Oh iya, ini juga sebagai tanda ke kita kalo psikolog tetaplah manusia biasa hahahaa 😀

Gue sendiri belom selesai baca sih, tapi ini buku emang bagus, terasa banget suana emosionalnya, kalo kalian suka buku autobiografi, gue menyarankan untuk membeli buku ini 🙂

rating 8.5/10

Buku pertama gue yang di tanda tangani langsung sama penulisnya, hore!!

sombong banget sih *ditiban rame-rame*

Advertisements

5 thoughts on “Iseng ikut bedah buku

  1. Pingback: Blogiveaway – Untaripri | Dancing The Dream

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s