Sekilas mengenai tesis

Gak terasa udah lama banget ga nge-blog. Mungkin ini karena gue masih euforia sama kelulusan gue. Mungkin kalo gue seumuran anak SMA, gue bakal pake semprotan pilog, tapi udah pasti nyemprotin orang doank mwahahahahaa 😀 (gue maunya baju gue bersih gituh). Tapi pas gue lulus jaman SMA, ga ada acara tuh semprot-semprot. Yang ada cuma saling tanda tangan di seragam. Itupun gue ga tertarik. *ketauan gak asik*

Anyway, Kepanjangan yang prolog-nya? gapapa yah, sekali kali inihhh 😀

Blog gue ini dedicated to Mb Nella, yang request untuk cerita tentang tesis gue *akuh sungguh terharu loh mb Nella*

Berikut gue akan ceritakan mengenai tesis gue, secara garis besar. Kok garis besar? ya abis panjang bener, nanti baca separo jangan-jangan pada tidur lagi hihihiii. Gue akan cerita dengan bahasa gaul aja yah, biar lebih enak bacanya dan nggak ilmiah buanget gitu. Oke sip, markimul (mari kita mulai) :

Judul : Dampak Courtesy Stigma pada Family Caregiver Orang Dengan Skizofrenia

Bagi yang belom tau, Skizofrenia adalah salah satu gangguan jiwa berat yang mengubah persepsi, pikiran, perasaan, dan tingkah laku seorang individu. Umumnya orang dengan skizofrenia (ODS) akan mengalami halusinasi dan delusi. Prevalensi skizofrenia itu sekitar 1% dari jumlah penduduk di dunia. Berarti kalo kita liat di Indonesia dengan prevalensi segitu, diperkirakan penduduk yang menderita skizofrenia ada sekitar 2.370.000 orang. Tentunya perkiraan kasar ya, tidak ada yang tahu pasti jumlah yang sebenernya. Rumah sakit jelas nggak mampu menampung pasien yang begitu banyak, jadinya pemberdayaan keluarga digalakkan, khususnya setelah keluar dari rumah sakit.

Dengan budaya di Indonesia, peran perawatan ODS tentunya dilakukan oleh keluarga (family caregiver). Tapi kenyataannya keluarga banyak yang ga siap. Nggak siap materi dan juga ga siap emosional, sehingga muncul yang disebut sebagai burden of caregiving. Selain mengalami burden ini, keluarga juga harus menghadapi stigma yang muncul dari masyarakat, karena nggak bisa dipungkiri kalo gangguan jiwa berat itu selalu disertai dengan adanya stigma. Munculnya stigma ya biasanya karena media yang menggambarkan ODS sebagai orang yang berbahaya, kotor, dan harus dihindari. Jadi apa itu stigma? Stigma itu adalah sebuah tanda yang diberikan kepada seseorang untuk membedakan dan merendahkan.

Stigma yang dialami oleh keluarga itulah yang disebut sebagai courtesy stigma. Courtesy stigma diartikan sebagai stigma yang menempel ke keluarga karena punya hubungan dengan orang yang menerima stigmatisasi (dalam hal ini ODS). Dampak courtesy stigma sendiri bisa bermacam-macam. Salah satunya orangtua disalahkan dan dianggap sebagai penyebab anaknya terkena skizofrenia. Jadi bisa dilihat, bahwa family caregiver itu punya peranan yang penting tuh untuk memberikan pendampingan bagi ODS, tapi ternyata family caregiver sendiri banyak terpapar hal-hal negatif. Jadi kalo si family caregiver ini nggak kuat secara psikologis, bagaimana mungkin memberikan advokasi maksimal bagi ODS? Jadi dampak stigma ini ke quality of caregiving-nya gimana?

Jadi begitulah kira-kira inti tesis gue ini. Gimana menurut temen-temen? Menarik nggak? 🙂

Ini ada sebuah quote mengenai skizofrenia :

If you talk to God, You are praying. If God talks to you, you have schizophrenia” (Thomas Szasz)

Oh iya, kalo mau baca artikel mengenai stigma gangguan mental bisa liat DISINI

Advertisements

9 thoughts on “Sekilas mengenai tesis

  1. Jadi inget dulu aku pernah baca novel yang judulnya “Mereka Bilang Aku Gila”. Sebuah novel yang cerita tentang penderita Skizofrenia. Ayo Mbak publish tesisnya untuk publik. 🙂

  2. Baru sempat mampir kesini :).
    Kasihan juga ya kalau ada penderita yang malah di jauhi atau diasingkan di rs. tertentu, harusnya kah bisa diobati hingga sembuh. Mbka Ri, schizophrenia ini bisa disembuhkan kan?.

    • Layaknya orang pada umumnya kok mba kalau ditangani dengan medikasi :).
      Itu dia mba, kemarin baru aku liat ada yang upload di youtube judulnya skizofrenia, dan malah nambah2hin stigma, parah banget deh. Yang lebih menyedihkan, yang bikin orang Indonesia lagi 😦

      • Dulu banget pernah liat liputannya yg di Indonesia, para penderita dimasukkan ke rs jiwa, atau panti. Apakah disana diobati atau ditampung saja ya ga tau, kasihan juga sih klo tdk diobati :(.

        • Kalo pantinya dinsos kemungkinan ga diobatin mba, tapi kalo RSJ pasti akan diobatin 🙂
          Cuma memang obat skizofrenia itu meskipun udah ada generiknya, tapi tetep aja memberatkan yang ekonominya kurang kuat 😦

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s