Seorang Ibu

Kayaknya topik ini lagi panas-panasnya yah 🙂

Daku cuma mau share aja sih sedikit. 

Bagi saya, sebuah perilaku atau tindakan, pasti memiliki sebuah alasan dibaliknya. Sebagai contoj, Ibu saya adalah wanita bekerja. Beliau bekerja karena kondisi keuangan hanya bisa “cukup”. Cukup untuk makan ala kadarnya, biaya sekolah, dan kebutuhan sehari-hari. Tapi tentu dalam hidup ini kan tidak hanya keluarga kecil. Ada kondisi-kondisi yang membutuhkan lebih. Keluarga lain yang membutuhkan misalnya, dan biaya pendidikan di masa mendatang yang lebih membengkak. 

Kakak perempuan saya ingin sekali memberikan ASI, tapi ASI cuma keluar seminggu. Semua hal dilakukan kakak mulai dari pompa, makan kacang mentah, minum rebusan sirih. Cukup lama terapi itu dilakukan tapi ga mempan. ASI tetap nggak keluar. Sedih sekali ketika ada orang bertanya saat dia membuatkan Luna sebuah susu dari botol. “Kok nggak ASI sih?”. Bisa terbayangkan yah, perasaan kakak saya saat itu. Tapi dia hanya tersenyum.

Baik Ibu dan Kakak, keduanya sangat dekat dengan anak-anaknya. Ibu saya ini sukanya bikin lelucon, bikin kami tertawa, dia mendengarkan keluahan kami, dia mendukung kami dan membesarkan hati kami. Seperti pada ibu pada umumnya, dia juga sangat cerewet soal kebersihan hahaha :D. Ibu saya ini ibu hebat. Bapak saya bilang beberapa kali, tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan ibu saya. 😀

Oh iya, ibu saya selalu menyarankan anak perempuannya bekerja loh :D. Selain supaya keuangan rumah tangga bisa lebih stabil, juga untuk tabungan. Tapi hal yang terpenting adalah ketika terjadi apa-apa pada suami, istri bisa mandiri.

Melihat Ibu dan kakak, menjadi seorang Ibu bukan sekedar masalah bekerja-tidak bekerja-Asi-sufor, no msg, atau apapun juga. Sungguh loh, semua orang memiliki alasannya masing-masing. Dan bukan hak kita untuk justifikasi suatu kebenaran apalagi kita tidak pernah tahu latar belakang orang tersebut. Menjadi seorang ibu ya menjadi pilar emosional anak dan pilar emosional keluarga. Menjadi Ibu adalah soal kualitas dan bukan kuantitas. It is all about listening and understanding.

Dari sisi saya sebagai seorang anak, Ibu saya adalah ibu yang hebat. Meskipun dia bekerja dia selalu mau mendengar dan mau bermain bersama setelah pulang ke rumah. Dia memberi masakan pake micin, tapi masakan ibu saya luar biasa enak! Dia tidak pernah melarang saya makan segala macam hal, dan saya bahagia karenanya. Ketika makanan jatuh, dia membersihkannya dan tetap memberikan ketika saya minta, perut saya kuat loh dan tidak mudah sakit. Dia punya caranya sendiri terlepas dari segala kekuarangan yang dimilikinya, saya selalu merasa sangat beruntung memiliki Ibu seperti ini. 

“Kasih anak sepanjang galah, kasih Ibu sepanjang Masa”

Advertisements

One thought on “Seorang Ibu

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s